Current

Today I miss you like you never left. Regressing back to old ways and thinking about where you went and how you wept. Who you’re with now and if she knows what she has. Half me of hopes it doesn’t last. The other hopes you find happiness in her, while I look for it at the bottom of an empty glass.

As they say,

You never know what you have until it’s gone.

But I never can get you. You never let me be yours.

I had no idea that your voice was my favorite song until the silence. No idea that memories of someone you loved could be so violent. Red always seems to change to violet then to black and blue.

My bruises look just like you.

And my mind has become an island. Marooned and surrounded by water hearing the calls of sirens. I can swim but I have nowhere to go out but you. If only I know my way home from the middle of the ocean. It seems

You can do just about anything with a moment but hold it.

I am folding under waves.. and I miss you.

Advertisements

Tastes like ‘missing you’

Hari ini saya bangun lebih siang, sambil menunggu kiriman datang dari Bandung. Dari seorang teman yang periang.

Sudah terhayalkan rasanya menari di sekeliling dinding mulutku, air liurku tertelan seperti sedang mengidamkan sesuatu. Iya, kopi ku akhirnya datang. 

Kuintip dari jendela kamarku, gerimis. Mungkin akan terlambat. Lalu seseorang baru saja memarkirkan kendaraanya, sedikit melewati rumah. “Pasti itu,” yakinku.

Baru menuruni satu anak tangga pemisah teras dan garasi, hidungku menyingkap sesuatu, hatiku tersenyum. Dengan sigap kusambut tamu yang saya tunggu-kuperbesar langkahku. Tak sempat ku bukakan pagar di halaman. Lewat sela besi dia memberikanku sebuah bungkusan hitam, ku tanda tangani lalu dia bersegera pergi. 

Buru-buru ku berhambur ke arah meja makanku, tak sempat duduk-tanganku sibuk. Lalu bungkusan hitam sudah menampakkan wajah asliya. 

Lalu alisku terangkat kaget, ada dua. 

“Thank you, Trias.” Batinku.

Baunya menyeruak kemana-mana. Buru-buru ku panaskan air dalam tungku, ku ukur-ukur untuk beberapa teguk. Kuambil gelas warna ungu dan satu gelas lagi untuk memanaskan gelasnya.

Kutuang air panas, lalu kupindah kembali, kuulang terus-berharap gelasnya sudah cukup panas. Kutakar dengan naluri; satu sendok teh-tidak padat membumbung, berharap itu 7mg. Ku tuang perlahan dengan gerakan melingkar, kudiamkan.

Dalam hati ku menghitung, dua puluh detik. Tanganku seperti sudah tahu apa yang akan dilakukannya. Mengaduk, membentuk huruf W, lalu ku saring.

Setengah cangkir telah terisi. Kudekatkan wajahku, asap putih tipis masih terlihat samar. Kuhirup dalam aromanya dari pinggir, kucoba menebak:

Dry distillastion, carbony. Smoky, tarry? Sepertinya bukan.”

Lalu saya ragu.

Buru-buru kutepis dengan menyeruput kopinya hingga berbunyi, sedikit tapi cukup keras. Sweet, mellow, delicate. Simpulku.

Lalu kuteguk seperti orang kehausan. Terasa ada ampas halus.

“Seharusnya saring pakai filter papper tadi.” Gerutuku dalam hati.

Kulanjutkan dengan kebahagiaan keduaku, Javaco Melange. Kuperlakukan dengan cara yang sama dengan kopi Aroma.

Rasanya kuat, bitter. Saya belum yakin taste-nya harsh or pungent. Saya masih harus banyak belajar mengenai rasa.

Ku duduk menikmati kopi di cangkirku perlahan. Kureka ulang semua aroma dan rasa yang menyerangku beberapa saat lalu. Ada yang ringan pun pekat, bitter medium-low.

Tunggu.

“Dari mana semua pengetahuan dan kecintaan akan kopi ini?”, tanyaku untuk ingatanku.

Sambil kembali menyeruput minumanku yang mulai kehilangan panasnya, saya mencoba mengingat. Memang beberapa waktu yang lalu saya dan teman berniat membuka usaha, tapi tak pernah terlintas dalam anganku untuk menjadi seorang Barista. Beberapa ajakan pernah singgah padaku, ada yang kutolak pun ada yang ku iya-kan dengan senyuman. Kupaksa ingat kembali kapan diriku mulai berani mencicip minuman ini, 

“Saat itu cuaca juga sering hujan. Ah, hujan.” 

Perlahan, pahit di aliran mulutku membantuku menemukan awal. Kuperhatikan lekat-lekat isi cangkirku, tinggal setengah. Samar-samar dapat kulihat yang mengendap di dasar. Hitam legam.

“Sehitam neraka, sekuat kematian dan semanis cinta: itulah nikmatnya kopi.” 

Dalam ingatan kudapati diriku pernah membenci hal pahit ini. Dengan pelan kurangkai benang merah di sela-sela pahit dalam mulutku. Membantuku mengingat. Hujan, Barista, hitam pekat, bau kopi, seseorang, jauh. Sebuah rekaan suara berbicara di ingatanku,

“Aku dulu punya cita-cita jadi Barista. Pernah punya..”

“Gimana mau jadi Barista kalau gak pernah minum kopi.”

“Kopi itu salah satu kenikmatan dunia. Saya pecinta kopi.”

“Kamu cobain Picollo yang one shot aja dulu. Biar gak deg-degan, katanya. Kalau aku mah gak ngaruh mau one shot atau double.”

Ingatanku menyempit di satu percakapan, directmessage di Twitter. Jantungku berdebar; agak menohok sepertinya tapi tak kuanggap,

“Ah, pasti karena kopi.” Tangkisku.

Kembali kuseruput dalam isi cangkirku. Sudah dingin. Kopi akan dinyatakan ‘basi’ setelah 15 menit. Karena cita rasanya berbeda ketika dingin. Cara terbaik menikmatinya adalah selagi panas, suhu gelas minimal menyerupai suhu seduh kopi sekitar 90° C. Ahh, pengetahuan ini.

Kembali ku bergumul dengan separuh ingatan waktu itu. Kopinya terasa makin pahit, makin sulit untuk kuteguk. Mungkin perasaan menohok di dada tadi sudah sampai di tenggorokanku.

Saya merindukan seseorang, jujurku pada diri sendiri. 

“kamu aries yah?”

Itu  chating-an pertamanya padaku. Wanita misterius yang tiba-tiba memasuki hidupku, mengambil perhatianku lalu hinggap di hatiku. Iya, hinggap.

Kamu tahu kan, perasaan seperti ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu, menggelitik seluruh syaraf dan mendebarkan jantungmu tak karuan? Saya merasakan itu padanya. Membuat semua kupu-kupu dalam perutku bangun dari tidur lelapnya. Perempuan yang dapat meyakinkanku mencintai apa yang dulunya saya benci. Empat tahun kubangun tembok hatiku untuk melupakan masa lalu, agar tak mudah terketuk pun tercuri, lagi.

Jarang kudapati diriku langsung melakukan apa yang diperintahkan dalam sekali suruhan. Apa lagi dapat meyakinkanku memutar benci menjadi cinta pada hal yang dahulu, kujanji tak akan pernah saya lakukan. Dan kudapati diriku seperti akan meng-iya kan segala pintanya sebelum dia menyebutkannya. Saya jatuh cinta dalam cara yang salah dan benar dengan rasaku. 

“Iya, benar saya merindukannya. dan Iya, benar saya masih mencintainya.”

Kopi ini tiba-tiba kehilangan pahitnya. Pahit berasal dari rasa dalam diriku, bergumul dari kupu-kupu di perut dan debar di dadaku. Sesak.

“Well, who could you blame if sometimes an ‘I miss you’ hurts?”

now, this coffee tastes like missing you.

She said

“I love you.”

She said.

I said,

“I smell alcohol on your breath.”

I remember what went wrong and I know what must come next. So

Don’t you lie to me again. I know I can’t trust you in the light. I wiped tears from both our eyes, as they fell in into her dress. You see, we were blind to the world outside our intentions. Intertwined in between sheets and our legs. We once read music with our hands but

There we were, made of intent minus action, words were all we had left.

I crave a new pair of lips to dance with, that taste less like perfection. A new drug that I could buy for less. Yet she’s stuck between my pages like a flower pressing. And I’m finding myself reading the same lines over and over again, like I don’t know how this story ends six times over.

I forgot to forget you

But I remember what you did and what you said. I remember what you  gave and what you kept for yourself.  You were always the selfish one. 

You never let me in

And I have nothing left to give but silence.

Can you hear me now?

the weather person

img_0182-bww-copyToday, I feel alone in my own company.

Some of me loves the life I lead, while some of me pleads for the light.

Part of me feels right to be so wrong.

Part of me feels like I’m the devil on my right shoulder. Its almost summer now but it feels so much colder.

While my hands are red with heat holding embers that stand to smolder forever..

Maybe it is I that creates December in June.

Maybe it is my on soul that refuses to surrender control, back to a body that no longer listens.

Within skin that does not feel like mine.

I envision a new home, a new hope that I may find myself among the bones of who I have become.

Some part of me wants to forget, while the other clings to my breath in search of familiar air to breathe. finding only ashes within me, I shall start a new.

Like the Phoenix, this is only a stage, and I have played my part long enough.

It is love that I lost and it is love that I will return to as the curtains close and onlookers stand up, to applaud my lost soul as it searches for a new dream to sleep in.

 A new truth to lie in.

Pris

There were days when I all wanted was to hear the sound of your voice

and tell the glide of your fingertips of mine, and to be in your presence.
Those were days I found myself hating you the most.

You leave me.

Cold.

In the clouded fog of my depression.
Right when I needed you the most.
 
I hate myself 

for hating you

because to this day

I still love you..

ps: m.p

di/men-cin(tai)-mu/nya

Teringat percakapan dengan seorang teman dalam perjalanan pulang dari bandara. Perjalanan yang sunyi karena saya hanya menatap jalan dan dia menatap langit.Langitnya begitu indah; senja yang memerah

Seperti ucapan perpisahan yang ingin diingat

Dia menatap nanar dalam merah langit sepanjang jalan. Setelah melepas kekasihnya pergi untuk dua belas purnama, atau lebih

Percakapan mengalir tentang hal yang tersirat dalam ucapan selamat jalan. Saya bertanya tentang janji yang ditinggalkan. Baginya long distance itu ibarat upil, lebih menyerupai omong kosong

“You cannot feel her anymore..”

dan komitmen itu sedikit lebih besar dari upil; tai kuning.​

Baginya tidak ada rasa yang bertahan ketika yang kau cintai tak bisa kau rengkuh.

“Selama ini kalau saya sibuk kerja, pasti kalau sudah selesai saya cari dia. Habiskan waktu bersama

Kalau ada apa-apa saya cari dia, dia juga begitu. Kita sama-sama mengisi. Kalau sedih dia selalu ada, saya juga begitu

Sekarang dia jauh. Segala-galanya bakalan beda.”

Saya termenung sejenak selama perhentian traffic light. Menelaah perkataan sederhana untuk didengarkan. Lalu entah mengapa hatiku membenarkan sesuatu perihal itu. I’m thingking about you. Batinku.

“Now, I know.”